Anatomi dan Fisiologi Organ Genitalia Wanita

Kali ini bocah radiography akan membahas tentang Anatomi dan Fisiologi organ reproduksi wanita. Ayo simak terus ya..:p

Organ reproduksi wanita dibagi menjadi dua yaitu bagian eksterna (bagian luar) dan interna (bagian dalam), untuk lebih jelasnya baca lebih lanjut.

 

 

 

 

 

Organ Genetalia Eksterna Wanita

 

a. Mons Veneris

Mons Veneris merupakan bagian yang menonjol dan terdiri dari jaringan lemak yang menutupi bagian depan simpisis pubis, dan setelah masa pubertas kulit mons veneris akan di tumbuhi oleh rambut.

b. Labia Mayora

Labia mayora berbentuk lonjong dan menonjol, berasal dari mons veneris dan berjalan ke bawah dan belakang. Yaitu dua lipatan kulit yang tebal membentuk sisi vulvadan terdiri dari kulit, lemak, pembuluh darah, jaringan otot polos dan syaraf. Labia mayora sinistra dan dextra bersatu di sebelah belakangdan merupakan batas depan dari perinium, yang disebut commisura posterior (frenulum), dan panjangnya kira-kira 7, 5 cm.

Labia Mayora terdiri daridua permukaan :

  1. Bagian luar, menyerupai kulit biasa dan ditumbuhi rambut.
  2. Bagian dalam menyerupai selaput lendir dan mengandung banyak kelenjar sebacea.

c. Labia Minora

Labia minora merupakan lipatan sebelah medial dari labia mayora dan merupakan lipatan kecil dari kulit diantara bagian superior labia mayora. Sedangkan labianya mengandung jaringan erektil. Kedua lipatan tersebut bertemu dan membentuk superior sebagai preputium klitoridis pada bagian superior dan inferior sebagai klitoridis pada bagian inferior

d. Klitoris

Klitoris merupakan sebuah jaringan erektil kecil, banyak mengandung urat-urat syaraf sensoris yang dibentuk oleh suatu ligamentum yang bersifat menahan ke depan simpisis pubis dan pembuluh darah. Panjangnya kurang lebih 5 cm. klitoris identik dengan penis tetepi ukurannya lebih kecil dan tak ada hubungannya dengan uretra.

e. Hymen (selaput Dara)

Hymen adalah diafragma dari membrane yang tipis dan menutupi sebagian besar introitus vagina, di tengahnya terdapat lubang dan melalui lubang tersebut kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. Biasanya hymen berlubang sebesar jari, letaknya di bagian mulut vagina memisahkan genitalia eksterna dan interna.

f. Vestibulum

Vestibulum merupakan rongga yang sebelah lateralnya dibatasi oleh kedua labia minora, anterior oleh klitoris, dorsal oleh fourchet. Pada vestibulum terdapat muara-muara dari vagina uretra dan terdapat juga 4 lubang kecil yaitu: 2 muara dari kelenjar Bartholini yang terdapat disamping dan agak kebelakang dari introitut vagina, 2 muara dari kelenjar skene disamping dan agak dorsal dari uretra.

Organ Genetalia Interna wanita

 

Organ genetalia interna meliput :

a. Vagina

Vagina  merupakan saluran yang menghubungkan uterus dengan vulva dan merupakan tabung berotot yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris khusus dan dialiri banyak pembuluh darah serta serabut saraf secara melimpah. Panjang Vagina kurang lebih 10-12 cm dari vestibula ke uterus, dan letaknya di antara kandung kemih dan rektum. Vagina mempunyai fungsi yaitu : sebagai saluran keluar dari uterus yang dapat mengalirkan darah menstruasi, sebagai jalan lahir pada waktu partus.

b. Uterus

Uterus merupakan alat yang berongga dan berbentuk sebagai bola lampu yang gepeng dan terdiri dari 2 bagian : korpus uteri yang berbentuk segitiga dan servix uteri yang berbentuk silindris. Bagian dari korpus uteri antara kedua pangkal tuba disebut fundus uteri (dasar rahim).

Bentuk dan ukuran uterus sangat berbada-bada tergantung dari usia, dan pernah melahirkan anak atau belum. Cavum uteri (rongga rahim) berbentuk segitiga, melebar di daerah fundus dan menyempit kearah cervix. Sebelah atas rongga rahim brhubungan dengan saluran indung telur (tuba follopi) dan sebelah bawah dengan saluran leher rahim (kanalis cervikalis). Hubungan antara kavum uteri dengan kanalis cervikalis disebut ostium uteri internum, sedangkan muara kanalis cervikalis kedalam vagina disebut ostium uteri eksternum. Dinding rahim terdiri dari 3 lapisan : Perimetrium (lapisan peritoneum) yang meliputi dinding uteru bagian luar, Myometrium (lapisan otot) merupakan lapisan yang paling tebal, Endometrium (selaput lendir) merupakan lapisan bagian dalam dari korpus uteri yang membatasi kavum uteri.

c. Tuba Fallopi

Tuba Fallopi terdapat pada tepi atas ligamentum latum, berjalan kearah lateral, mulia dari kornu uteri kanan kiri yang panjangnya ­­­­­­­­­­­kurang lebih 12 cm dan diameternya 3-8 mm. Fungsi tuba yang utama adalah untk membawa ovum yang dilapaskan ovarium ke kavum uteri.

Pada tuba ini dapat dibedakan menjadi 4 bagian, sebagai berikut :

  1. Pars interstitialis (intramularis), bagian tuba yang berjalan dalam dinding uterus mulai pada ostium internum tubae.
  2. Pars Ampullaris, bagian tuba antara pars isthmixca dan infundibulum dan merupakan bagian tuba yang paling lebar dan berbentuk huruf S.
  3. Pars Isthmica, bagian tuba sebelahkeluar dari dinding uerus dan merupakan bagian tuba yang lurus dan sempit.
  4. Pars Infundibulum, bagian yang berbentuk corong dan lubangnya menghadap ke rongga perut, Bagian ini mempunyai fimbria yang berguna sebagai alat penangkap ovum.

d. Ovarium

Ovarium terdapat di dalam rongga panggul di sebelah kanan maupun sebelah kiri dan berbentuk seperti buah kenari. Ovarium berfungsi memproduksi sel telur, hormon esterogen dan hormon progesteron.

Pengaruh Hormonal Wanita

Hormon yang berpengaruh pada reproduksi wanita adalah hormon estrogen dan progesteron. Berikut ini adalah efek fisiologis yang ditimbulkan oleh hormon-hormon tersbut.

Efek Fisiologis Estrogen

  1. Merangsang pertumbuhan semua organ reproduksi, terutama lapisan mukosa dan lapisan otot tuba uterin, uterus, dan vagina. Estrogen juga menstimulasi pertumbuhan duktus dan alveoli kelenjar mamae
  2. Mempengaruhi konfigurasi tubuh total melalui peningkatan pembentukan tulang dan peningkatan penumpukan lemak.
  3. Menyebabkan produksi sekresi serviks berair jernih yang cenderung memfasilitasi masuknya sperma ke dalam uterus.

Efek Fisiologis Progesteron

  1. Merangsang pertumbuhan endometrium uterus lebih lanjut untuk mempersiapkan terhadap implantasi ovum yang sudah dibuahi
  2. Merangsang pertumbuhan dan diferensiasi sel-sel alveolar kelenjar mamae menjadi sel-sel pensekresi susu.
  3. Meningkatkan viskositas mukus serviks dan dengan demikian cenderung menghambat masuknya ke os serviks.

Gangguan pada Sistem Reproduksi Wanita

  1. Gangguan menstruasi

Gangguan menstruasi pada wanita dibedakan menjadi dua jenis, yaitu amenore primer dan amenore sekunder. Amenore primer adalah tidak terjadinya menstruasi sampai usia 17 tahun dengan atau tanpa perkembangan seksual. Sedangkan amenore sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 – 6 bulan atau lebih pada orang yang tengah mengalami siklus menstruasi.

  1. Kanker genitalia

Kanker genitalia pada wanita dapat terjadi pada daerah vagina, serviks dan ovarium.

  1. Kanker vagina

Kanker vagina tidak diketahui penyebabnya tetapi kemungkinan terjadi karena iritasi yang diantaranya disebabkan oleh virus. Pengobatannya antara lain dengan kemoterapi dan bedah laser.

  1. Kanker serviks

Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel abnormal tumbuh di seluruh lapisan epitel serviks. Penanganannya dilakukan dengan mengangkat uterus, tuba uterina, ovarium, sepertiga bagian atas vagina dan kelenjar limfe panggul.

  1. Kanker ovarium

Kanker ovarium memiliki gejala yang tidak jelas. Dapat berupa rasa berat pada panggul, perubahan fungsi saluran pencernaan atau mengalami pendarahan vagina abnormal. Penanganan dapat dilakukan dengan pembedahan dan kemoterapi.

  1. Infeksi vagina

Gejala awal infeksi vagina berupa keputihan dan timbul gatal-gatal. Infeksi vagina menyerang wanita usia produktif. Penyebabnya antara lain akibat hubungan kelamin, terutama bila suami terkena infeksi, jamur atau bakteri.

  1. Endometriosis

Endometriosis adalah keadaan dimana jaringan endometrium terdapat di luar uterus, yaitu dapat tumbuh di sekitar ovarium, tuba uterina atau jauh di luar uterus, misalnya di paru-paru. Gejala endometriosis berupa nyeri perut, pinggang terasa sakit dan nyeri pada masa menstruasi. Jika tidak ditangani, endometriosis dapat menyebabkan sulit terjadi kehamilan. Penanganannya dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan, laparoskopi atau bedah laser.

 

 

 

Minggu, 01 Mei 2011

Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Pria

Organ seks eksterna

  • Penis                            : alat untuk melakukan persetubuhan pada laki-laki.
  • Skrotum                      :  struktur yang tertutup kulit tempat bergantungnya penis

      Organ seks interna

  • Testis              : memproduksi spermatozoa dan testosterone.

      Saluran Reproduksi       

  • Epididimis                   :    saluran panjang berkelok yang menjadi penghubung antara testis dengan vas deferens dan tempat penyimpanan sperma  sementara hingga menjadi matang.
  • Vas deferens               : saluran lanjutan epididimis untuk mengangkut sperma dari epididimis ke uretra.
  • Ductus ejaculatorius    : saluran penghubung vas deferens dan uretra yang berjalan menuju prostate.
  • Uretra                          : saluran akhir dari saluran reproduksi untuk menyalurkan sperma dan urin keluar tubuh.

 

      Kelenjar Kelamin           

  • Vesikula seminalis       : mensekresi cairan cadangan makanan bagi sperma berupa fruktosa dan bahan lain (kental dan kekuningan).
  • Kelenjar prostate         : penghasil getah yang dialirkan ke saluran sperma.
  • Kelenjar cowper          : penghasil getah sebelum ejakulasi untuk melumasi penis agar mudah masuk ke vagina.

 

Struktur

  • Testis adalah genitalia pria yang terletak di skrotum, ukuran testis pada orang dewasa adalah 4 x 3 x 2,5 cm, dengan volume 15 – 25 ml berbentuk avoid. Kedua buah testis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat pada testis. Di luar tunika albuginea terdapat tunika vagainalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan parietalis serta tunika dortos. Secara histologis, testis terdiri atas ± 250 lobuli dan tiap lobulus terdiri atas tubuli seminiferi. Di dalam tubulus seminiferus terdapat sel-sel spermatogonia dan sel sertoli. Sedang di antara tubuli seminferi terdapat sel-sel leydig. Sel-sel spermatogonium pada proses spermatogenesis menjadi sel spermatozoa. Sel-sel sertoli berfungsi memberi makan pada bakal sperma, sedangkan sel-sel kydig atau disebut sel-sel interstisial testis berfungsi dalam menghasilkan hormon testosteron. Sel-sel spermatozoa yang diproduksi di tubuli seminiferi testis disimpan dan mengalami pematangan/maturasi di epididimis.
  • Epididimis adalah organ yang berbentuk seperti sosis terdiri atas kaput, korpus dan kaudo epididimis korpus epididimis dihubungkan dengan testis melalui duktuli eferentes. Vaskularisasi epididimis berasal dari arteri testikularis dan arteri deferensialis. Di sebelah kaudal epididimis berhubungan dengan vasa deferens.

 

  • Vas Deferens adalah organ berbentuk tabung kecil dan panjangnya 30 – 35 cm, dan berakhir pada duktus ejakulatorius di uretra posterior. Dalam perjalanannya menuju duktus ejakularius, duktus deferens dibagi dalam beberapa bagian, yaitu (1) pars tunika vaginalis, (2) pars skrotalis, (3) pars inguinlais, (4) pars palvileum dan (5) pars ampularis.Setelah mature (dewasa) sel-sel spermatozoa bersama-sama dengan getah dari epididimis dan vas deferens disalurkan menuju ke ampula vas deferens. Vesikula seminalis serta cairan prostat membentuk cairan semen atau manis.

 

  • Vesikula seminalis terletak di dasar buli-buli dan di sebelah kranial dari kelenjar prostat panjangnya kurang lebih 6 cm berbentuk sakula-sakula. Vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan bagian dari semen. Cairan ini diantaranya adalah fruktosa, berfungsi dalam memberi nutrisi pada sperma. Bersama-sama dengan vas deferens, vesikula seminalis bermuara di dalam duktus ejakularius.
  • Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di bawah kandung kencing, di atas diafragma urogenitale dan meliputi bagian pertama uretra. Terdiri atas 2 lobus lateral dan 1 lobus medial. Salurannya dilapisi oleh epitel torak dan bermuara pada uretra pars prostatika.

 

1.1  Fisiologi

Gametogenesis dan ejakulasi

Testis mendapatkan darah dari berbagai cabang arteri yaitu arteri spermatika interna yang merupakan cabang dari aorta, arteri deferensialis cadang dari arteri epigastika.Testis taut kedap (tight junction) antara sel sertoli berdekatan lamina basalis membentuk sawar darah testis yang mencegah protein dan molekul besar lain berjalan dari jaringan interstisial dan bagian lumen tubulus (ruangan basal) ke daerah dekat lumen tubulus (ruangan adluminal) dan lumen.

 

Spermatogenesis (sel benih primitif dekat lamina basalis tubulus seminiferi) matang ke spermatosit primer. Proses ini dimulai selama adolesen. Spermatosit primer mengalami pembelahan miosis yang mengurangi spermatosit sekunder dan kemudian ke spermatoid yang mengandung jumlah haploid 73 kromosom.

 

Spermatogenesis memerlukan suhu yang jauh lebih rendah dibandingkan interior badan. Testis normalnya dipertahankan pada suhu sekitar 32 °C.Cairan yang diejakulasikan pada waktu orgasme (semen) mengandung sperma serta sekresi vesikulo seminalis, prostat, glandula cowper dan mungkin glandula urethra. Volume rata-rata per ejakulasi 2,5 – 3,5 ml setelah beberapa hari pantang. Walau ia hanya mengambil 1 sperma untuk memfertilisasi ovum, namun normalnya sekitar 100 juta sperma per mililiter semen.

 

Ejakulasi merupakan refleks spinalis 2 bagian yang melibatkan emisi (gerakan semen ke dalam urethra) dan ejakulasi yang sebenarnya dorongan semen keluar urethra pada waktu orgasme.Ereksi dimulai dari penglihatan atau dari bau yang dapat menyebabkan dilatasi arteriola penis akibat rangsangan dari hipotalamus yang menyebabkan jaringan eriktil penis terisi dengan darah, maka vena tertekan, yang menyumbat aliran keluar dan menambah turgor organ ini. Pusat terpadu di dalam pars lumbalis medula spinalis diaktivasi oleh impuls dalam aferen dari genetalia dan traktus desendens yang memperantarai ereksi dalam respon terhadap rangsangan psikis erotik.Serabut parasimpatis eferen terletak dalam nervus splanchnicus pelvis (nervi erigentes). Serabut yang mungkin mengandung asetikolin dan VIP sebagai konstransmiter, serta pelepasan keduanya menimbulkan vasodilatasi dalam kasus apapun, suntikan VIP lokal menimbulkan ereksi. Impuls vasokontriktor ke arteriola mengakhiri ereksi.

 

 Fungsi Endokrin Testis

Kimiawi dan biosintesis testosteron (hormon utama testis) merupakan steorid C19 dengan suatu gugusan – OH pada posisi 17, ia disintesis dari kolesterol dlam sel lydig.Kecepatan sekresi testosteron 4 – 9 mg/hari (13,9 – 31,2 n mol/hari) dalam pria dewasa normal. Sejumlah kecil testosteron yang disekresi dalam wanita, mungkin dari ovarium, tetapi mungkin dari adrenalis juga.

 

Transpor dan metabolisme, sembilan puluh persen testosteron dalam plasma terikat ke protein, 40% diikat ke b-globulin yang dinamakan globulin pengikat steroid gonad (GBG : Gonad Steroid – dinding globulin) atau globulin pengikat steroid seks, 40 % ke albumin dan 17% ke protein lain.Disamping kerjanya selama perkembangan testosteron dan androgen lain menimbulkan efek umpan balik inhibisi atas sekresi LH hypothesis. Perkembangan dan pemeliharaan sifat seks sekunder pria serta menimbulkan efek peningkatan pertumbuhan, anabolik protein yang penting. Perubahan luas dalam distribusi rambut, konfigurasi tubuh dan ukuran genitalia yang berkembang pada anak laki-laki pada pubertas tidak hanya prostat dan vesicula seminalis membesar tetapi vesicula seminalis mulai mensekresi fruktosa.Efek anabolik androgen meningkatkan sintesis dan menurunkan pemecahan protein, yang menyebabkan peningkatan dalam kecepatan pertumbuhan.Mekanisme kerja seperti steroid lain testosteron terikat ke reseptor intra sel dan kemudian kompleks reseptor, steroid terikat ke DNA di dalam hati, yang memfasilitasi transkripsi berbagai gen.Produksi estrogen testis 70 % estradiol dalam plasma prima dewasa dibentuk oleh aromatisasi testosteron dan androstinedion yang bersirkulasi.

 

 Kendali fungsi Testis

FSH bersifat tropik bagi sel sertoli serta FSH dan androgen mempertahankan fungsi gametogenik testis. FSH juga merangsang sekresi protein pengikat androgen dan inhibin. Testosteron mengurangi LH plasma, tetapi kecuali dalam dosis besar, ia tidak berefek atas FSH plasma.Umpan balik steroid, hipotesis kerja saat ini tentang cara fungsi testis diregulasi dipertahankan, kastrasi diikuti oleh peningkatan dalam isi hypophysis serta sekresi FSH dan LH, serta lesi hypothalamus mencegah peningkatan ini. Testosteron menghambat sekresi LH dengan bekerja langsung atas lobus anterior hypophysis dan menghambat sekresi LHRH dari hypothalamus.

Diposkan oleh Rambadi di 17:23

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s